Minggu, 28 Agustus 2016

Memperbaiki Niat

Seringkali ketika suatu pekerjaan hasilnya jelek, orang akan berkata, 'lha wong nggak niat ngerjakannya'.

Jadi niat itu apa? Apakah sesuatu yang terlintas dipikiran? Apakah sesuatu yang diucapkan?

Jika sesuatu yang sudah diniatkan tapi tidak membuatnya gelisah terhadap pencapaian atau terlaksananya niat, maka belum dikatakan niat. Nama lain dari niat adalah hamma. Yaitu kegelisahan hati dan semangat yang menggelora untuk menunaikan niat.

Hadist nabi yang mengatakan al akmalu binniyat adalah keberhasilan pencapaian tujuan tergantung dari kesemangatan hati untuk mencapainya. Dan itu sudah berpahala. Kalau cuma baru lintasan pikiran dan ucapan belum berpahala, apalagi berdosa.

Dalam hidup perbanyaklah niat yang positif. Niat beramal, niat puasa sunah, niat haji, niat sholat tahajud dan berbagai ibadah lainnya. Tapi seringkalinya, misalkan sudah niat sholat tahajud, tapi kok terlewat juga walaupun jam bekker selalu berbunyi di samping kupingnya?

Kita masih sering bangga bahwa kita mampu beribadah itu karena kemampuan dan kemauan kita. Padahal semua itu tidak akan terwujud tanpa hidayah dan kekuatan yang diberikan olehNya. Maka harus disadari dan selalu mohon hidayah dan kekuatan dari Allah agar mampu untuk menjalankan perintahNya. Perbanyaklah niat untuk menjalankan kebaikan, insyaAllah Allah akan memberikan kekuatan dan hidayah untuk mewujudkannya. Sebuah hadist mengatakan;

Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Kembali ke asal kata niat, yaitu hamma, bahwa niat itu harus membuat hati gelisah jika belum terlaksana. Ada semangat yang menggelora untuk mewujudkannya. Jika unsur itu belum ada, maka belum disebut niat, baru dikatakan keinginan.

Demikian juga dengan niat saya untuk hidup ala homesteader, hidup mandiri penuh berkah mengelola pertanian dan peternakan berkelanjuan, insyaAllah bukan hanya keinginan yang sifatnya sementara, selintas, tetapi sesuatu yang direncanakan dan tetap semangat untuk mewujudkannya.

Jadi bagaimana implementasi dan niat yang benar itu?

Pertama niat itu harus dituliskan. Allah dalam menciptakan dan menjalankan kehidupan untuk mahluknya sudah tertulis jelas di kitab lauful mahfuz. Demikian juga dengan kita, untuk menjalankan kehidupan, harus direncanakan dan ditulis dalam bentuk tulisan. Dibandingkan dengan organisasi, niat itu adalah Visi. Dijabarkan ke dalam misi, program kerja dan kegiatan. Demikian juga dalam niat, harus ada detil pekerjaan yang dituliskan untuk mencapainya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar