Selasa, 21 Maret 2017

Berbuat Baik, Cukupkah?


Salah satu bentuk Ghazwul Fikri yang paling berbahaya, sengaja dilakukan oleh musuh-musuh Islam dan anehnya beberapa muslim juga mengatakan tanpa berfikir efeknya adalah ucapan bahwa “yang penting berbuat baik, maka kamu akan masuk surga”.  Akhirnya orang berpandangan semua agama sama, sama benarnya. Menjalankan ibadah sesuai tuntunan ajaran Islam menjadi tidak relevan. Sholat, puasa, zakat dan ibadah haji menjadi tidak penting.

Perikehidupan sehari-hari bukan lagi dikendalikan oleh Quran dan hadist, melainkan naluri. Seperti hewan. Dimana letak kebaikannya? Patokan kebenaran menjadi tidak jelas. Kebaikan dilakukan hanya berdasarkan hawa, bukan petunjuk agama yang jelas. Kebaikan yang dikerjakan dengan dasar yang rapuh, tidak akan membuahkan apa-apa, apalagi mengantarkan kita ke surga.

Kebaikan adalah fitrah manusia, sebagaimana juga halnya keburukan adalah sisi lain manusia. semua orang bisa merasa iba, mengasihani, memberi dan merasa tersentuh dan semua itu tanpa perlu melibatkan jenis keyakinan dan Agama seseorang. Berbuat baik kepada orang lain hanyalah salah satu aspek dari Islam sebagai sebuah ajaran yang menyeluruh dan sangat luas. Menitikberatkan Islam hanya pada baiknya hubungan pada sesama dan  mengabaikan hal-hal lain jelas telah membonsai Islam menjadi ajaran yang kerdil dan sempit. Apa jadinya jika semua muslim hanya menganggap Islam hanyalah baiknya hubungan dengan sesama? Ghazwul Fikri yang digencarkan musuh-musuh Islam telah menang. Muslimin menganggap sepele berbagai perintah dan larangan ajaran tauhid ini.

Kalau dicermati, persepsi semacam itu sebenarnya hanyalah kedok dari keengganan melaksanakan Islam secara menyeluruh. Utamanya adalah bagian-bagian ajaran Islam yang hari ini tengah mendapat banyak cobaan berupa stigma buruk dan penentangan seperti memilih pemimpin yang muslim, jilbab, jenggot, dakwah dan jihad. Dengan memenangkan hati bahwa inti Islam adalah baiknya hubungan dengan manusia, seseorang merasa tidak perlu lagi menjalankan perintah-perintah agama yang dianggap tak lebih dari sekadar simbol-simbol agama.

Pemahaman semacam ini makin kacau dengan penafsiran ‘baik dan tidak mengganggu orang lain” yang rancu. Baik dan tidak mengganggu yang dimaksud adalah ketika satu sama lain bisa saling mengerti dan merasa nyaman dan aman atas apapun yang dilakukan, termasuk saat melanggar syariat. Kalau benar Islam adalah agama yang substansinya hanya seperti ini, maka Islam tak layak disebut agama karena pada dasarnya seluruh manusia sudah memiliki konsep seperti itu, baik dan tidak saling mengganggu.

Padahal mengacu pada aspek amar makruf nahi mungkar, kadangkala ‘mengganggu orang lain’ jusrtu merupakan gambaran kebaikan yang sesungguhnya. Seseorang yang ‘mengganggu’ pasangan yang tengah berpacaran, selingkuh, minum miras, asyik bermain dan lupa shalat dan pelanggaran syariat yang lain dengan cara memperingatkan mereka bahwa yang mereka lakukan adalah dosa, pada dasarnya bukanlah mengganggu tapi justru tengah berbuat baik.

Kemudian, mengenai seorang muslim yang rajin shalat atau berjilbab tetapi masih saja mengganggu orang lain, sifatnya sangat kasuistik dan lebih merupakan kesalahan personal. Menarik kasus-lasus semacam ini untuk kemudian disimpulkan bahwa shalat dan jilbab bukanlah hal substansial karena tak membuat seseorang baik adalah kesimpulan yang sangat tidak cerdas dan sama sekali tidak bisa diterima. Bukankah ibadah sholat itu tujuannya mencegah perbuatan keji dan munkar?

Allah secara tegas mengatakan kepada umat Islam bahwa surga hanya akan diperoleh oleh Muslim yang mau berjihad dan bersabar.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. 3 : 142).

Ibn Katsir menjelaskan dalam tafsirnya; “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian diuji dan nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan orang yang sabar dalam melawan musuh”.

Syeikhul Ibnu Taimiyyah pernah ditanya, tentang amalan ahlul jannah dan amal perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi penghuni neraka. Beliau menjawab, amalan ahlul jannah (penghuni surga) adalah iman, takwa, dan amal shalih yang lain. Adapun perbuatan penghuni neraka ketika di dunia adalah kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.

Seorang ahlul jannah ketika di dunia adalah seorang muhsin (berbuat ihsan). Maksudnya, beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya maka sungguh Dia pasti melihatmu. Berbuat baik berarti berbuat ihsan. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa ihsan adalah gradasi tertinggi dari keimanan setiap Muslim. Setiap Muslim yang mampu berbuat ihsan insya Allah akan dekat dengan keridhoan-Nya. Sebab Muslim yang ihsan akan senantiasa menahan diri dari berbuat aniaya (dosa), dan bersegera dalam kebaikan. Hatinya dipenuhi kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi gerak-geriknya.

Al-Quran memberi sedikit gambaran siapa-siapa yang akan bertempat di surga.
وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
وَمَن يَعْصِ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَاراً خَالِداً فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dalam keadaan mereka kekal di dalamnya. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya lagi melampaui batasan-batasan-Nya niscaya Allah akan masukkan dia ke dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya dan untuknya di dalam neraka itu azab yang hina.” (QS: an-Nisa: 13—14).


Begitulah penjelasan Allah Subhanahu Wata’ala. Tentu, berbuat baik pada orang dan tetangga atau sering beramal saja tidaklah cukup memenuhi syarat. Sarat lain adalah taqwa, iman dan tunduk aturan-aturan Allah Subhanahu Wata’ala. Perampok, koruptor, orang atheis bisa saja beramal karena uangnya, namun mereka bukan karena Allah. Sehingga amal-amalnya tertolak dan sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar