Kamis, 16 Maret 2017

Ghazwul Fikri..... Antara Fakta dan Ilusi



Tanggal 15 Maret 2017, Kuliah Sekolah Pemikiran Islam (SPI) telah memasuki minggu kedua. Topik bahasan yang menjadi pembelajaran dan diskusi adalah Ghazwul Fikri, dengan pemateri Ustad Akmal Sjafril. Lokasi tetap di Insists Gema Insani Pers Kalibata Utara II Jakarta. "Ghazwul artinya perang, sedangkan Fikri adalah pemikiran", demikian kata Ustad Akmal di awal kuliah.

"Jika orang Islam berpendapat bahwa Ghazwul fikri itu ilusi, berati  kita memang sudah kalah dalam perang pemikiran ini" lanjutnya. Menurut Ustad muda dari Bogor ini, Ghazwul Fikri adalah kenyataan yang harus disadari dan setiap muslim wajib andil di dalamnya.

Yang namanya perang, kita pasti kalah kalau tidak ada persiapan. Jangan terlena dengan slogan-slogan yang meninabobokkan semangat juang. Benar Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan rahmatal lil alamin. Tetapi musuh-musuh Islam tidak akan rela sampai kita mengikuti langkah-langkah mereka.  Menurut Ustad Akmal, hal ini sesuai dengan petunjuk Quran surat Al Baqoroh ayat 120, "Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.”

Ustad Akmal menerangkan bahwa perang adalah konfrontasi yang terencana, memiliki tujuan penaklukan dan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki. Perang beda dengan persaingan dan kompetisi. Harus melawan kalau tidak mati. Situasi mental harus perang. Tidak ada pilihan lain, harus selalu siap-siap. Jika sampai kalah dalam perang pemikiran ini, maka segenap tubuh, pemikiran dan motivasi kita dikuasai musuh. Akidah tergadaikan, bahkan hilang terjual. Kita tidak lebih dari sebatas budak yang dapat diprintah apapun tanpa berani melawan. Akibatnya, mau ibadah malas, gemar melakukan maksiat. Selalu ada pembenaran untuk berbagai tindakan kemungkaran. Semuanya tampak indah.

Menurut Ustad Akmal, perang pemikiran sudah ada sejak Nabi Adam. Adam dibisiki setan untuk makan buah Quldi supaya dapat hidup kekal. Dijadikan benar dan indah hasil perbuatan  melanggar larangan Allah, maka keduanya mengikuti  bujuk rayu dan hawa nafsu setan. Demikian juga, sihir pengikut Firaun. Seolah-olah ada ular-ular kecil. Padahal itu cuma ilusi. Kemajuan dan kemakmuran di Zaman Firaun juga cuma tipuan duniawi yang membuat mereka takjub sehingga rela musrik menyembah Firaun.

Lebih lanjut Ustad Akmal merincikan ada tiga modus Ghazwul Fikri yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam, yaitu:

1. Melalui Media Masa

Media masa digunakan sebagai sarana efektif untuk meyerang pemikiran Muslimin. Tragedi WTC 11 November 2001, bom bali, ISIS dan berbagai rentetan kekerasan atas nama "islam"  berhasil membuat stigma teroris kepada umat Islam, sehingga minder untuk menampilkan simbol keislamannya. Banyak juga yang imannya lemah menjadi murtad. Opini buruk terhadap Islam, indahnya  liberalisme dan kapitalisme difasilitasi oleh berbagai media masa yang berhasil mereka kuasai. Mereka punya idiom, "If you repeat a lie often enough, people will believe it".

2. Pendidikan

Orang akan langsung percaya bahwa itu kebenaran kalau yang mengatakan seorang professor atau doktor. Lembaga pendidikan membiayai operasionalnya dari lembaga donor atau pihak tertentu yang pasti mempunyai misi. lembaga pendidikan akhirnya mendoktrin segenap civitas akademika sesuai visi misi pemberi dana. Masyarakat cenderung mempercayai bahwa lembaga pendidikan adalah pemegang otoritas kebenaran.

3. Sistem Budaya

Film, sinetron, acara selebritas, talkshow dan musik merupakan wahana yang paling mengena menyerang pemikiran manusia. Tindakan asusila seorang artis bisa menjadi benar dan akhirnya ditiru. Kesan dan pesan yang sangat halus di sinetron, misalkan peran H. Muhidin di Tukang Bubur Naik Haji sangat mengena. Orang akhirnya berkata, "nggak usah rajin-rajin ibadah, yang penting baik terhadap sesama". Ghiroh menjadi hilang dari dada orang Islam, ukhuwah merenggang.

Sebelum sesi diskusi, Ustad Akmal menyampaikan kesimpulan materi kuliah tentang Ghazwul Fikri ini. Perang pemikiran adalah fenomena umum yang terjadi sejak lama, sejak nabi adam, nabi-nabi berikutnya yang selalu mendapatkan pertentangan dari kaumnya, hingga kita sekarang. Banyak pihak yang berkepentingan untuk merusak pemikiran umat manusia. Dan satu pesan beliau, Ghazwul Fikri hanya bisa dimenangkan dengan ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar