Selasa, 14 Maret 2017

Mblenger dengar kalimat Islam Rahmatal Lil Alamin?



Mblenger orang jawa bilang. Taluh orang mbayumasan biasa sebut. Indonesianya, "bosen bangetttt". Bahasa gaulnya, "basi tahu!!!!". Bagaimana tidak, Kalimat Islam Rahmatal Lil Alamin sering dijadikan pembenaran pihak tertentu untuk memperkuat eksistensi liberalisme dan pluralisme yang kebablasan. Membiarkan kemungkaran merajalela, melemahkan ghiroh dan pendangkalan akidah. Parahnya, sebagai wujud pragmatis untuk membela penista agama dan pemimpin kafir. Beuh....

Dahulu sebelum 'negara api' menyerang dan berkuasa sehingga dapat mendudukkan petugas partainya sebagai presiden, umat Islam sangat bangga mendengungkan kalimat itu. Semua harokah atau kelompok Islam satu pemikiran dan pemahaman. Karena memang demikianlah misi Islam sebagaimana diwahyukan Allah, "Kami tidak mengutus kamu [Muhammad], kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam" (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah, lihat saja sabda Rasulullah sebagaimana yang terdapat dalam Hadis riwayat al-Imam al-Hakim, “Siapa yang dengan sewenang-wenang membunuh burung, atau hewan lain yang lebih kecil darinya, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya”. Burung tersebut mempunyai hak untuk disembelih dan dimakan, bukan dibunuh dan dilempar. Dengan hewan saja tidak boleh sewenang-wenang, apalagi dengan manusia. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran islam, maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini.

Narasi Islam yang menyelamatkan dan memberi rahmat pada seluruh alam, yang kemudian populer dengan terma “Islam rahmatan lil alamin”, mendapat momentumnya setelah merebaknya teror atas nama Islam di berbagai belahan penjuru dunia, seperti penyerangan dan peledakan bom bunuh diri di tempat-tempat publik seperti gereja, bandara, stasiun kereta api dan pusat-pusat perbelanjaan, dan puncaknya adalah pembajakan pesawat yang ditabrakkan ke menara kembar WTC dan Pentagon, segera saja Islam dituding sebagai biang kekerasan dan diberi label sebagai agama teror yang mengobarkan kebencian dan kekerasan.

Benarkah Islam mengajarkan kekerasan sebagaimana selama ini ditudingankan? Berangkat dari situasi historis dan politis yang menempatkan Islam sebagai agama yang paling dipersalahkan atas terjadinya berbagai teror yang melanda dunia, mendorong banyak kalangan intelektual Islam, terpanggil untuk turut mendudukkan makna Islam sesungguhnya, baik pada publik Islam sendiri, sebagai upaya pencegahan bangkitnya ekstrimisme, juga pada publik di luar Islam sebagai ikhtiar menepis tudingan yang keliru pada Islam. Di sinilah letak persoalannya. Kebutuhan untuk memperkenalkan Islam sebagai agama ramah, dan toleran via narasi Islam rahmatan lil alamin, meski telah memberi jawaban yang kokoh atas kegalauan berpikir di seputar tafsir dan praktik beragama yang fanatic, namun di sisi lainnya, justru telah mendegradasi universalitas rahmatan lil alamin itu sendiri, yang hanya berkutat pada persoalan pluralitas dan multikulturalitas.

Benar bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah kaprah. Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah. Permasalahan muncul ketika orang-orang menafsirkan ayat  secara serampangan, bermodal pemahaman bahasa dan logika yang dangkal. Atau berusaha memaksakan makna ayat agar sesuai dengan hawa nafsunya.

Diantaranya pemahaman yang salah  tersebut adalah:

1.  Berkasih sayang dengan orang kafir

Sebagian orang mengajak untuk berkasih sayang kepada orang kafir, tidak perlu membenci mereka, mengikuti acara-acara mereka, enggan menyebut mereka kafir, atau bahkan menyerukan bahwa semua agama sama dan benar. Konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, serta membenci orang-orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)

2.  Berkasih sayang dalam kemungkaran

Sebagian kaum muslimin membiarkan orang-orang meninggalkan shalat, membiarkan pelacuran merajalela, membiarkan wanita membuka aurat mereka di depan umum bahkan membiarkan praktek-praktek kemusyrikan dan enggan menasehati mereka karena khawatir para pelaku maksiat tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian berkata : “Islam khan rahmatan lil’alamin, penuh kasih sayang”. Sungguh aneh.

Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mu’min adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perinta-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah. Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan.

3.  Berkasih sayang dalam penyimpangan beragama

Adalagi yang menggunakan ayat QS al-Anbiya untuk melegalkan berbagai bentuk bid’ah, syirik dan khurafat. Karena mereka menganggap bentuk-bentuk penyimpangan tersebut adalah perbedaan pendapat yang harus ditoleransi sehingga merekapun berkata: “Biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami, bukankah Islam rahmatan lil’alamin?”. 

Bahkan wajib bagi muslimin menasehati bila saudaranya terjerumus dalam kesalahan. Yang dinasehati pun sepatutnya lapang menerima nasehat. Bukankah orang-orang beriman itu saling menasehati dalam kebaikan?

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr: 1 – 3)

4.  Menyepelekan permasalahan Aqidah

Dengan dalih Rahmatal lil alamin, sebagian orang menyepelekan dan enggan mendakwahkan aqidah yang benar. Karena mereka menganggap mendakwahkan aqidah hanya akan memecah-belah ummat dan menimbulkan kebencian sehingga tidak sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Perintah jangan memilih pemimpin kafir hanya dianggap sebagai kepentingan politik. Padahal itu benar wahyu dan larangan dari Allah S.W.T. Orang yang terus menggelorakan larangan ini dianggap anti kebinekaan, anti NKRI, menebar kebencian, teroris dan anti kemaslahan umat. Situ waras?

Oh hujan..... lenyapkan api di negeri Indonesia tercinta ini. sehingga kami tidak takut, ragu dan saling curiga lagi mengatakan yang hak itu hak. Mengabarkan dengan bangga dan semangat  bahwa Islam itu memang Rahmatal Lil alamin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar