Rabu, 29 Maret 2017

Sudut Pandang Pemilih Gubernur Jakarta 2017

Ketika ditanyakan apa alasan memilik gubernur DKI Jakarta, pendukung Ahok yang diwakili oleh ‘Teman Ahok’ beragumentasi bahwa Ahok sudah terbukti kinerjanya, jujur dan anti korupsi. Alasan berbeda dikemukan oleh kubu yang bersebarangan. Kenapa tidak memilih Ahok? Anggota FPI menjawab lugas, “Al Maidah ayat 51 melarang kami memilih pemimpin kafir”.
Alasan yang dikemukan oleh Teman Ahok masih debatable. Apakah benar Ahok sudah terbukti kinerjanya? Jakarta masih sering  banjir dan kemacetan Jakarta semakin menjadi-jadi. Anti korupsi? Sederatan kasus korupsi dituduhkan ke lelaki dengan nama asli Basuki Tcahya Purnama ini. Tafsir Almaidah 51, bagi kaum muslimin juga terbelah jadi 2, antara ketidakbolehan memilih pemimpin kafir atau memilih teman setia. Quraish Shihab menafsirkan sebagai teman setia dan konteksnya ayat itu turun waktu perang, sehingga dilarang memilih Nasrani dan Yahudi sebagai teman setia.
Perbedaan pemikiran dan sikap kedua kubu itu wajar karena berangkat dari pola pikir dan sudut pandang yang berbeda. Cara manusia memandang dan mensikapi fenomena atau sesuatu yang terdapat dalam alam semesta bersumber dari beberapa faktor yang dominan dalam kehidupannya. Faktor itu boleh jadi berasal dari kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan, tata nilai masyarakat atau lainnya. Luasnya spektrum pandangan manusia tergantung kepada faktor dominan yang mempengaruhinya. Cara pandang yang bersumber pada kebudayaan memiliki spektrum yang terbatas pada bidang-bidang tertentu dalam kebudayaan itu. Cara pandang yang berasal dari agama dan kepercayaan akan mencakup bidang-bidang yang menjadi bagian konsep kepercayaan agama itu.
Pemilih Ahok lebih berdasarkan hanya terbatas pada kesini-kinian, terbatas pada dunia fisik, alasan realitas rasional emosional dan alasan sekuler lainnya. Pemilih non Ahok, dalam hal ini sebagai besar umat Islam yang dimotori oleh GNPF-MUI , MUI dan Muhammadiyah dan berbagai organisasi Islam lain spektrumnya menjangkau realitas keduniaan dan keakheratan. Islam mepunyai pandangan hidup sendiri. Yaitu, Menurut al-Mauwdudi, pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh. Implikasinya, pola pikir dan tindakan muslimin harus berdasarkan petunjuk dan aturan Islam. Pun demikian halnya dalam memilih pemimpin.
Almaidah ayat 51 ditafsirkan sebagai larangan memilih pemimpin kafir banyak didukung oleh ayat Al Qur-an lainnya yaitu surat Ali Imran ayat 28, Surat An Nisa ayat 144, Surat Al Maidah ayat 57, Surat At Taubah ayat 23, Surat Al Mujadilah ayat 22 dan Surat Ali Imran ayat 149-150. Jika Al-Maidah ayat 51 ditafsirkan sebagai ‘teman setia’ dan bahwa konteksnya pada suasana perang, maka saat ini juga menemukan relevansinya. Bukan kita saat ini sedang dalam kondisi perang pemikiran? Saat ini, musuh-musuh Islam berusaha mencekoki pemikiran Muslimin dengan berbagai pandangan hidup yang berorientasi pada kesenangan dunia saja. Sama halnya ketika Adam dan Hawa digoda untuk memakan buah Qoldi oleh setan.
Saat ini, di era globalisasi, harusnya kaum Muslim sadar, bahwa setiap saat keimanan mereka sedang dalam kondisi diperangi habis-habisan oleh nilai-nilai sekular-liberal yang dapat mengikis dan menghancurkan pemikiran Islam dan keimanan mereka. S.M. Idris, Presiden Consumer Association of penang (CAP), mencatat bahwa globalisasi merupakan ancaman yang sangat serius terhadap kaum Muslim. Globalisasi bukan hanya mempraktikkan eksploitasi ekonomi dan pemiskinan, tetapi juga mengikis keyakinan, nilai-nilai, budaya, dan tradisi Islam.
Seorang Muslim yang memilih Islam sebagai pandangan hidupnya akan yakin bahwa hanya Islam-lah agama yang diterima Allah (QS. 3: 83). Dalam Al Al Quran dan Hadist Islam menjelaskan bagaimana manusia harus beribadah kepada-Nya, dan bagaimana manusia harus menjalani hidup di dunia.
Setiap Muslim pasti akan diuji keimanannya. Iman tidak akan dibiarkan begitu saja, tanpa ada ujian (QS 29:2-3). Maka, setiap zaman dan setiap waktu akan selalu ada ujian iman. Ada yang lulus, ada yang gagal dalam ujian iman. Oleh karena itulah, setiap Muslim diwajibkan agar selalu menuntut ilmu setiap waktu agar dapat mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, mana yang Tauhid dan mana yang syirik. Pun saat ini Muslimin Indonesia, khususnya pemilih Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 sedang diuji keimannya, mau memilih berdasarkan pandangan hidup Islam atau pandangan hidup sekuler.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar